Michael Leonardo

Sahabat Brainy, kabar duka datang dari Subang, Jawa Barat. Kecelakaan maut yang melibatkan rombongan SMK Lingga Kencana Depok terjadi pada hari Sabtu (11/5/2024). Bus Trans Putera Fajar dengan nomor polisi AD 7524 OG yang ditumpangi rombongan pelajar mengalami rem blong dan menabrak tiang listrik.

Akibatnya, 11 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menetapkan sopir bus, Sadira (50), sebagai tersangka.

Rem Blong dan Kondisi Bus Tak Layak Jalan

Menurut Direktur Lalu Lintas Polda Jabar, Kombes Pol Wibowo, Sadira terbukti lalai karena tetap mengemudikan bus meskipun tahu bus tersebut dalam kondisi rusak dan tak layak jalan.

"Sadira terbukti lalai. Bus dalam keadaan rusak dan tak layak jalan, tapi tetap dipaksa jalan. Akhirnya, terjadi kecelakaan yang menewaskan 11 penumpang dan 40 penumpang lainnya luka-luka," jelas Wibowo.

Kondisi bangkai bus dan motor yang terlibat kecelakaan di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024).

Keputusan ini diambil berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 13 saksi, kondisi fisik bus, dan olah TKP. Penyelidikan kecelakaan dilakukan menggunakan metode traffic accident analysis (TAA).

Dari hasil pemeriksaan, Sadira diketahui menyadari adanya masalah pada sistem rem bus. Bahkan, bus tersebut sempat berhenti di area wisata Gunung Tangkubanparahu dan Rumah Makan Budi Ajun di Ciater untuk perbaikan.

Namun, Sadira tetap nekat melanjutkan perjalanan dan membawa 61 penumpang hingga akhirnya terjadi kecelakaan.

"Dari hasil olah TKP, tidak ditemukan bekas rem, hanya gesekan antara bus dan aspal," tambah Wibowo.

Penyebab Kecelakaan: Kerusakan Rem dan Bus Tak Layak Jalan

Wibowo menjelaskan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kerusakan pada rem bus.

"Penyebab utama kecelakaan maut ini adalah kegagalan fungsi pada sistem pengereman bus," ungkapnya.

Selain itu, pemeriksaan fisik bus oleh dua saksi ahli menyimpulkan bahwa bus yang dikemudikan Sadira tidak laik jalan. Beberapa temuan yang memperkuat kesimpulan ini adalah:

  • Terdapat campuran oli dan air di ruang udara kompresor mesin.
  • Oli bus berwarna keruh karena sudah lama tidak diganti.
  • Minyak rem mengandung air melebihi ambang batas normal empat persen.
  • Jarak antar kampas rem di bawah standar.
  • Kerusakan pada alat booster rem yang menyebabkan sistem rem bus tidak berfungsi.

Semua temuan ini mengindikasikan bahwa bus tidak mendapatkan perawatan rutin dan oli kendaraan tidak diganti secara berkala.

Ancaman Hukuman dan Kemungkinan Tersangka Lain

Akibat kelalaiannya, Sadira dijerat Pasal 311 ayat 5 Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara dan denda Rp 24 juta.

Polisi juga tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus ini.

"Kami akan terus mendalami dan memeriksa kasus kecelakaan maut ini, termasuk memeriksa pemilik PO Bus," tegas Wibowo.

Pemeriksaan terhadap pemilik PO Bus dilakukan karena ditemukan fakta bahwa bus tersebut tidak memperpanjang uji KIR dan ada perubahan badan bus dari bus biasa menjadi jetbus atau high decker.

Sahabat Brainy, semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu memperhatikan kondisi kendaraan sebelum bepergian. Jangan sampai kelalaian kita merugikan diri sendiri dan orang lain.

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka