Michael Leonardo

Hai sahabat Brainy! Belakangan ini dunia pendidikan kita lagi ramai nih, banyak mahasiswa di berbagai kampus negeri yang protes gara-gara UKT naik. Beberapa kampus yang kena imbasnya antara lain Unsoed, UI, ITB, USU, dan Unri.

Mahasiswa dari UI, Muhammad Ridha Intifadha, berpendapat kalau kenaikan UKT ini disebabkan oleh campur tangan pemerintah. Dia menunjuk dua aturan dari Kemendikbud Ristek yang dianggap jadi biang keroknya. Aturan pertama membahas tentang standar biaya operasional pendidikan tinggi, sementara yang kedua menentukan besaran standar biaya tersebut.

Ratusan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, berdemonstrasi di depan gedung rektorat menolak kenaikan UKT, Jumat (26/4/2024) sore.

Tapi, Cecep Darmawan, seorang pakar pendidikan dan guru besar UPI punya pendapat lain nih. Menurutnya, dua aturan itu nggak mengharuskan UKT naik. Aturan tersebut cuma ngatur standar biaya operasional, dan kampus punya kewenangan untuk menentukan UKT masing-masing.

Cecep berpendapat bahwa kenaikan UKT sebenarnya bukan semata-mata karena peraturan, tapi lebih karena kampus kurang kreatif dalam mencari sumber dana.

"Setiap tahun, UKT seharusnya dievaluasi. Bukan berarti harus naik, tapi disesuaikan dengan kebutuhan anggaran kampus," jelas Cecep.

Nah, kalau anggaran kampus meningkat, bukan berarti langsung menaikkan UKT dong. Cecep menekankan pentingnya kampus untuk jadi entrepreneurship university yang bisa memanfaatkan potensi lain untuk mendapatkan dana, misalnya melalui riset, inovasi, dan hak paten.

Cecep juga nyindir, menaikkan UKT itu adalah cara termudah yang menunjukkan bahwa kampus kurang kreatif dan nggak mau kerja keras untuk mendapatkan dana.

"Seperti pemerintah yang kalau kekurangan anggaran, ya sudah naikkan pajak saja. Gampang sih, tapi membebani masyarakat," kata Cecep.

Cecep juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penetapan UKT. Seharusnya, ada forum yang melibatkan dosen dan mahasiswa untuk membahas sumber pendapatan kampus, sehingga keputusan untuk menaikkan UKT jadi pilihan terakhir.

Selain itu, Cecep mengingatkan bahwa akreditasi unggul bukan berarti kampus bisa seenaknya mematok UKT tinggi. Kampus harus kreatif mencari sumber dana lain, misalnya melalui kerja sama dengan industri atau lembaga pemerintah.

"Jangan mentang-mentang unggul, jadi mahal. Unggul itu harusnya dijual ke pihak luar, bukan cuma ke mahasiswa," imbuhnya.

Intinya, Cecep menekankan pentingnya transparansi penggunaan UKT. Kalau pun naik, kenaikannya harus masuk akal dan sejalan dengan peningkatan fasilitas dan layanan. Jangan sampai UKT naik cuma untuk membiayai operasional para petinggi kampus!

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka