Michael Leonardo

Sahabat Brainy, kabar gembira nih buat kalian yang lagi atau akan kuliah di perguruan tinggi negeri! Kemendikbud Ristek resmi membatalkan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk tahun ajaran 2024-2025. Keputusan ini diambil setelah banyaknya kritikan dari masyarakat terkait rencana kenaikan UKT di berbagai PTN.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim (tengah) bersama Sekretaris Jenderal Kemendikbud Ristek Suharti (kiri) dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) Kemendikbud Ristek Abdul Haris (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Raker tersebut membahas kebijakan pengelolahan anggaran pendidikan bagi PTN (badan hukum, BLU, dan Satker) serta pembahasan implementasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah dan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim, menjelaskan bahwa pembatalan ini merupakan bentuk tanggapan atas aspirasi mahasiswa, keluarga, dan masyarakat. Beliau juga telah berkoordinasi dengan pihak PTN, termasuk PTN-BH, terkait hal ini.

Kok Bisa Naik Sih UKT-nya?

Nadiem menjelaskan bahwa kenaikan UKT tahun ajaran 2024/2025 didasari oleh Peraturan Mendikbud Ristek Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi (SSBOPT). Aturan ini diterbitkan untuk meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bagi PTN dan PTN-BH.

Biaya pendidikan tinggi dalam SSBOPT memang mengalami penyesuaian, mempertimbangkan kebutuhan teknologi pembelajaran yang terus berkembang. SSBOPT sendiri terakhir kali diperbarui pada tahun 2019.

Sayangnya, terjadi miskonsepsi di masyarakat. Banyak yang mengira Permendikbud Ristek ini berlaku untuk semua mahasiswa, padahal sebenarnya hanya untuk mahasiswa baru.

Alasan Lain Kenaikan UKT

Ada beberapa faktor yang membuat UKT terasa "naik drastis" bagi sebagian mahasiswa:

  • Penempatan kelompok UKT yang kurang tepat: Beberapa PTN mungkin salah menempatkan mahasiswa di kelompok UKT yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka karena data yang kurang akurat.
  • PTN yang jarang menyesuaikan UKT: Beberapa PTN mungkin baru pertama kali menyesuaikan UKT setelah lebih dari lima tahun, sehingga kenaikannya terasa signifikan.
  • Salah kaprah UKT tertinggi: Banyak yang mengira UKT tertinggi berlaku untuk mayoritas mahasiswa, padahal faktanya hanya 3,7% mahasiswa baru yang berada di kelompok UKT tertinggi.

Sempat Muncul Ide Student Loan

Polemik kenaikan UKT ini sempat memunculkan ide penerapan student loan bagi mahasiswa yang kesulitan membayar UKT. Ada dua opsi skema yang dipertimbangkan:

  1. Pinjaman berbasis mortgage: Sistem kredit jangka panjang dengan hak tanggungan, di mana mahasiswa membayar cicilan dengan jumlah tetap sejak awal kuliah.
  2. Sistem pinjaman berbasis pendapatan (Income Contingent-Loan/ICL): Cicilan disesuaikan dengan level pendapatan mahasiswa setelah lulus.

Namun, ide student loan ini juga menuai pro dan kontra karena berpotensi memberatkan mahasiswa di kemudian hari.

Nah, Sahabat Brainy, gimana tanggapan kalian tentang pembatalan kenaikan UKT ini? Bagikan pendapatmu di kolom komentar ya!

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka