Michael Leonardo

Hai Sahabat Brainy,

Kalian pasti pernah dengar berita tentang anak SD yang depresi gara-gara HP-nya dijual ibunya, kan? Kisahnya jadi viral dan bikin kita berpikir, apa iya cuma gara-gara HP anak bisa depresi? Nah, ternyata ada banyak faktor yang bisa memicu depresi pada anak, lho!

Psikolog Christin Wibhowo menjelaskan, penyebab depresi pada anak itu kompleks, enggak sesederhana satu faktor saja. Memang benar, faktor ekonomi keluarga yang kurang bisa berpengaruh, tapi bukan berarti anak dari keluarga kaya pasti bebas depresi.

Kenapa ekonomi bisa jadi faktor pemicu? Uang, meskipun terdengar materialistis, bisa jadi alat penstabil emosi. Anak yang kondisi keuangannya cukup, emosinya cenderung lebih stabil.

Tapi, kasus di Cirebon itu nunjukkin kalau faktor penyebab depresinya bukan cuma ekonomi. Tindakan sang ibu menjual HP yang dibeli dari hasil tabungan anaknya itu bisa diartikan si anak sebagai hukuman. Padahal, HP itu sesuatu yang berharga buat dia.

Christin menjelaskan, ada dua jenis hukuman untuk anak:

  • Hukuman positif: Mengambil sesuatu yang disukai anak.
  • Hukuman negatif: Menambah sesuatu yang tidak disukai anak.

Nah, ketika anak merasa dihukum, apalagi barang berharganya diambil, dia bisa depresi. Tapi, enggak semua anak yang kehilangan barang kesayangannya pasti depresi, ya.

Ade Cahyaningsih, Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Kota Cirebon menenangkan ARD di rumahnya. ARD diduga mengalami depresi setelah HP yang dibeli dari tabungannya dijual ibunya karena himpitan ekonomi

Kenali Ciri-Ciri Anak yang Berpotensi Depresi

Menurut Christin, ada beberapa ciri anak yang berpotensi mengalami depresi. Biasanya ditandai dengan kondisi emosional yang kurang stabil, seperti:

  • Malas beraktivitas dan melakukan kewajibannya.
  • Enggan sekolah.
  • Tidak punya hobi.
  • Mudah marah dan tersinggung.
  • Kesulitan move on dan sedih berlarut-larut.
  • Menjadi korban bullying.
  • Pola makan tidak normal (terlalu sedikit atau terlalu banyak).
  • Kebiasaan tidur berlebihan.

Pentingnya Peran Orangtua

Kalau anak menunjukkan ciri-ciri di atas, orangtua punya peran penting banget. Penuhi kebutuhannya, berikan dukungan dan kasih sayang. Jangan lupa, ajak si anak ngobrol dari hati ke hati. Dengarkan dan pahami perasaannya.

Layanan konseling juga bisa membantu. Profesional di bidang kesehatan mental bisa memberikan solusi dan arahan yang tepat.

Intinya, Sahabat Brainy, yuk kita lebih peka terhadap kondisi anak-anak di sekitar kita!

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka