Askara Indrayana

Ilustrasi Gedung Capitol di bawah logo TikTok yang dicoret.

Hai sahabat Brainy! Delapan kreator TikTok sedang berjuang untuk menyelamatkan platform kesayangan kita! Mereka baru saja mengajukan gugatan hukum untuk menghentikan aturan yang bisa mengakibatkan TikTok diblokir di Amerika Serikat, kecuali perusahaan induknya di China menjual sahamnya.

Para kreator ini merasa aturan ini gak adil banget! Mereka berpendapat bahwa larangan TikTok akan menghilangkan sumber penghasilan dan wadah kreativitas mereka. Gugatan ini punya beberapa kesamaan dengan gugatan yang diajukan TikTok sendiri, loh.

Argumen utama mereka adalah bahwa aturan ini melanggar hak kebebasan berekspresi yang dijamin oleh Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat. Mereka juga berpendapat bahwa kekhawatiran pemerintah tentang keamanan nasional yang disebabkan oleh TikTok itu berlebihan.

Meskipun pengadilan kemungkinan besar akan mempertimbangkan argumen mereka, TikTok dan para kreatornya harus meyakinkan pengadilan bahwa isu kebebasan berekspresi lebih penting daripada isu keamanan nasional yang diungkapkan oleh para pembuat undang-undang. Apalagi, undang-undang ini telah disetujui dengan dukungan mayoritas anggota Kongres.

Delapan kreator yang mengajukan gugatan ini bukan orang sembarangan, sahabat Brainy. Ada peternak terkenal, reviewer buku, dan bahkan pelatih sepak bola Amerika! Mereka semua sepakat bahwa TikTok punya keunikan yang gak bisa ditemukan di platform media sosial lainnya. Algoritma rekomendasi TikTok, fitur layar hijau, dan kemampuan duetnya adalah beberapa hal yang membuatnya istimewa.

"Karakteristik-karakteristik ini โ€” yang intrinsik terhadap medium dan berasal dari sistem yang digunakan TikTok untuk mengkurasi konten bagi setiap pengguna โ€” memberi TikTok budaya dan identitas yang berbeda," bunyi gugatan itu. "Membuat video di TikTok ('TikTok') dengan demikian merupakan bentuk ekspresi tersendiri, dan konten yang diungkapkan melalui TikTok dapat menyampaikan makna yang berbeda dari konten yang diungkapkan di tempat lain."

Mereka juga mengungkapkan bahwa meskipun mereka punya akun di platform lain seperti Facebook dan Instagram, jumlah pengikut mereka di sana jauh lebih sedikit dibanding TikTok. Mereka khawatir perubahan kepemilikan akan mengubah TikTok secara drastis, seperti yang terjadi pada Twitter setelah diakuisisi Elon Musk.

Kasus ini diajukan di Pengadilan Banding Federal di Washington DC, yang punya yurisdiksi eksklusif atas gugatan yang berkaitan dengan undang-undang divestasi paksa. Para kreator meminta pengadilan untuk menyatakan undang-undang tersebut inkonstitusional dan menghentikan pelaksanaannya.

Semoga perjuangan para kreator TikTok ini membuahkan hasil ya, sahabat Brainy! Kita tunggu saja kelanjutannya!

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka