Askara Indrayana

Hai sahabat Brainy! Festival Film Cannes yang bergengsi baru saja menambahkan kategori baru yang bikin heboh, yaitu extended reality alias XR. XR sendiri mencakup VR, AR, dan teknologi imersif lainnya yang lagi naik daun.

Festival Film Cannes memang sudah lama melirik potensi XR, bahkan sejak tahun 2017, mereka memberikan penghargaan khusus untuk pengalaman VR Carne y Arena karya sutradara ternama Alejandro Inarritu.

Thierry Fremaux, General Delegate Festival Film Cannes
Thierry Fremaux, General Delegate Festival Film Cannes. Festival Film Cannes berlangsung dari 14 hingga 25 Mei 2024

Dengan langkah ini, Cannes mengikuti jejak festival film Venice, Tribeca, dan SXSW yang sudah lebih dulu merangkul XR sejak tahun 2016.

Kompetisi Imersif: Ajang Unjuk Gigi Karya XR Inovatif

Dalam kompetisi Immersive yang baru diresmikan ini, ada delapan karya terpilih yang siap memukau penonton. Enam di antaranya bahkan dirancang untuk multi-user, mengatasi kendala klasik VR yang seringkali hanya bisa dinikmati satu orang.

Atlas V, studio produksi VR asal Prancis yang sudah malang melintang di industri ini dengan karya-karya seperti "Notes on Blindness", "Battlescar", dan "Spheres", mendapat kehormatan untuk memamerkan enam karya VR mereka dalam sebuah retrospektif.

Berikut beberapa karya XR yang siap mencuri perhatian di Festival Film Cannes tahun ini:

  • En amour: Instalasi audio-visual interaktif tentang cinta dan perpisahan yang dibuat oleh studio asal Prancis, Adrien M & Claire B. Karya ini sudah dipamerkan di Philharmonie de Paris dengan kapasitas 40 orang per pertunjukan dan 44 pertunjukan per minggu.
  • EVOLVER: Pengalaman VR sekaligus sesi meditasi yang membawa penonton menjelajahi tubuh manusia, mengikuti aliran oksigen. EVOLVER dapat dinikmati oleh enam orang sekaligus. EVOLVER sudah dipamerkan di Soel, Warsawa, dan Australia. EVOLVER digarap oleh nama-nama besar, termasuk Pressman Film, Cate Blanchett (narator) dan perusahaan produksinya Dirty Films, raksasa telekomunikasi Orange, Marshmallow Laser Feast, Atlas V, serta musisi Jonny Greenwood dan Jon Hopkins.
  • MAYA: The Birth of a Superhero: Kisah tentang perjalanan seorang gadis Asia Selatan menuju kedewasaan dan kebangkitan seksualitasnya. Pencipta Poulomi Basu dan CJ Clarke memanfaatkan karakteristik VR yang klaustrofobik dan mengisolasi serta kekuatannya untuk menempatkan penonton di posisi sang protagonis.
  • TELOS I: Karya holografik tentang AI yang menjelajahi identitasnya di dunia tanpa manusia, karya Dorotea Saykaly dan Emil Dam Seidel.
  • HUMAN VIOLINS - PRELUDE: Karya interaktif untuk enam orang tentang Holocaust, mengikuti kisah fiktif Alma, seorang pemain biola muda. Karya ini sebelumnya sudah ditampilkan di festival seperti Venice, namun di Cannes ini akan menjadi pemutaran perdana pengalaman multi-playernya.
  • COLORED: Satu-satunya karya AR di kompetisi ini. COLORED membawa penonton ke Alabama tahun 1950an, mengungkap kisah Claudette Colvin, pahlawan gerakan Hak Sipil yang terlupakan.
  • The Roaming: Karya tentang kekerasan dan solidaritas yang disutradarai oleh Mathieu Pradat. The Roaming unik karena menggunakan aktor live, sebuah format menarik untuk Cannes yang terkenal dengan aktor dan sutradaranya.
  • Traversing the Mist: Pengalaman VR berbasis lokasi tentang budaya gay, voyeurisme, dan kesepian di mana pengunjung menjelma menjadi seorang pemuda Taiwan dan bertualang ke sauna gay.

Elie Levasseur, Project Director Kompetisi Imersif Festival Film Cannes
Elie Levasseur, Project Director Kompetisi Imersif Festival Film Cannes

Cannes: Merintis Jalan Masa Depan XR

Dengan kapasitas 3-25 orang per pengalaman, kompetisi Immersive diperkirakan dapat menampung sekitar 542 orang per hari. Angka ini memang belum sebanding dengan bioskop, tetapi jangan lupa, bioskop pun dulunya merupakan seni dan media yang baru muncul.

Thierry Frémaux, General Delegate Festival Film Cannes, menegaskan, "Tujuan utama Festival Film Cannes adalah untuk memamerkan karya-karya terbaik di dunia perfilman, berkontribusi pada evolusinya, dan mendorong perkembangan industri film di seluruh dunia. Kami ingin mencapai hasil yang sama untuk karya-karya imersif yang kami pamerkan, dan distribusi merupakan salah satu tantangan utama."

Jika dulu film mengubah budaya, kini XR menjadi gelombang baru dalam bercerita. Dukungan Cannes terhadap XR menjadi sinyal kuat bahwa media ini punya masa depan cerah.

Project Director Kompetisi Imersif, Elie Levasseur, menekankan pentingnya membedakan XR dengan film agar pesan yang ingin disampaikan konsisten. "Penting untuk menghindari kesan bahwa karya imersif hanyalah genre atau perluasan dari film. Kami ingin menyelenggarakan acara khusus yang merayakan media ini dan menjadikan para seniman imersif sebagai bintang utama."

Fred Volhuer, salah satu pendiri Atlas V, mengungkapkan kegembiraannya, "Pembukaan kompetisi resmi untuk XR di Festival Film Cannes menandakan bahwa eksplorasi kami selama bertahun-tahun, memadukan cerita dan teknologi imersif, telah membuahkan hasil. Karya-karya kami diperhatikan dan diperkenalkan kepada khalayak baru oleh festival paling bergengsi di dunia. Ini adalah momen yang sangat istimewa bagi komunitas XR."

Kompetisi Immersive di Festival Film Cannes ini menjadi babak baru, baik bagi festival maupun media XR. Levasseur punya tugas besar untuk membuktikan bahwa XR punya tempat tersendiri di dunia seni, dimulai dengan mengidentifikasi karya-karya hebat, lalu memanfaatkan sorotan Cannes untuk mendorong komersialisasi XR.

Kita tunggu saja, kejutan apa lagi yang akan dihadirkan XR di masa depan!

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka